Powered By Blogger

Minggu, 06 Maret 2011

(Bukanlah) kisah cinta


            Mengalami kisah cinta begitu menggairah bagi yang merasakan. Selalu ingin berjumpa, bercengkrama menikmati setiap detik yang dilewati seakan waktu berhenti sementara takluk oleh sebuah kekuatan satu kata yaitu cinta. Hidup terasa sempurna, tidak kekurangan apapun untuk menikmati pesona dan gairah bercinta. Duniapun iri melihat kemesraan serta kasih sayang manusia yang lagi mabuk oleh (lagi-lagi) cinta. Kisah cinta itu begitu indah dan mempesona dengan kekuatannya menyatukan dua hati dalam satu rasa. Rasa itu manis dan menggiurkan sehingga mencicipnya saja sudah tidak merasa haus lagi. Dan rasa itu candu yang mengundang lagi dan lagi untuk mencicipinya. Candu itu ketergantungan berlebihan terhadap sesuatu. Ketergantungan itu menyesakkan. Saat rasa itu menghilang dan pergi, hidup terasa hampa suara dan udara. Menangis saat keadaan menyenangkan. Tertawa ketika semua mata berlinang.
            Setiap orang ingin dimengerti, dipahami dan diikuti. Semakin dekat hubungan interpersonal antara satu individu dengan individu lainnya, tuntutan itu semakin nyata. Itulah yang dialami oleh para pasangan, sahabat, saudara dan keluarga. Tuntutan tidak terpenuhi sesuai harapan karena setiap orang merasa mengerti, memahami dan mengikuti orang yang dicintainya. Namun mereka mengabaikan diri sendiri. Padahal belum tentu semua hal yang telah dikorbankan dan didedikasikan adalah yang terbaik untuk orang yang dicintai. Begitupun seseorang yang selalu ingin dimengerti, dipahami dan diikuti tanpa memperdulikan yang lain. Karena hidup itu adalah berinteraksi dan berkontribusi. Lalu bagaimana konsep yang tepat dalam berhubungan? Pada dasarnya adalah ketika seseorang ingin dimengerti tidak selalu harus mengerti dan saat kita ingin dimengerti, cobalah untuk mengerti orang lain. Karena dalam hidup tidak sepenuhnya keadaan itu salah atau benar. Dan sikap dan intergritas kita yang menentukannya.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar